
Bagian kedua: Makna hadits & sababul wurudnya
إِذَا طَلَعَ النَّجْمُ ذَا صَبَاحٍ رُفِعَتِ الْعَاهَةُ
“Apabila telah nampak bintang dipagi hari maka akan diangkat wabah-wabah” [HR. Ahmad: 14/192 nomor hadits: 8495]
- Bintang apa yang dimaksud?
hadits yang senada dengan hadits diatas dengan derajat shohih telah diriwayatkan oleh sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu'anhuma:
أنَّ النبيَّ صلََّّ اللهُ عليه وسلََّّم نهَى عن بيعِ الثمارِ حتى تذهبَ العاهةُ قال ابنُ سُراقَةََ : فسألتُ ابنَ عُمرَ : ماذا ؟ قال : طلوعُ الثُّرَيَّّا
“Sesungguhnya nabi Shalallahu alaihi wassalam melarang jual beli buah sampai wabah pergi. Berkata anak lakilakinya suroqoh (keponakan Abdullah ibn 'Umar) menanyakan kepada pamannya ibn Umar: apa tandanya? Beliau menjawab: munculnya bintang tsuroyya.” [Syarh ma'anil atsar: 4/23, derajat haditsnya shohih]
- Apa makna ‘aahah (العاهة)?
قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ : فَعَقَلْنَا بِذَلِكَ أَنَّهُ الثُّرَيَّّا ، وَعَقَلْنَا بِهِ أَيْضًا أَنَّ الْمَقْصُودَ بِرَفْعِ الْعَاهَةِ عَنْهُ هُوَ ثِمَارُ النَّخْلِ
“Berkata abu Ja'far: Yang kami pahami maksud bintang disini adalah tsuroyya, dan kita pahami juga maksud diangkatnya wabah adalah wabah yang menimpa pada buah kurma yang masih dipohon” [Syarah musykilul Atsar no: 1896]
العاهة الآفَةُ التي تُصيبُ الثَّمَرَ والزَّرْعَ فتُفسِدُهُ
“ ‘Aahah itu adalah wabah yang menimpa pada buah-buahan juga tanaman kemudian merusaknya”
Jadi wabah yang disebut ‘aahah dalam hadits ini adalah wabah yang khusus menimpa pada buah-buahan, tanaman dan yang sejenisnya yang biasa sebagian petani menamakannya “Hama sayur”. Atau maknanya bisa lebih khusus lagi sebagaimana yang diungkapkan Abu Ja’far diatas kalau itu hama khusus menimpa buah kurma yang masih baru muncul
dan biasanya terjadi sebelum memasuki puncak musim
panas.
Namun kita pun tidak memungkiri secara bahasa ‘aahah
yang berarti wabah bisa untuk buah-buahan, tumbuhan,
dan semua makhluk yang bernafas termasuk manusia. Tapi dari riwayat Abdullah ibnu umar diatas menunjukan maksud wabah yang dimaksud hanya dikhususkan untuk tanaman atau buah-buahan dan yang sejenisnya. Wallahu a’lam
- “Sampai munculnya bintang tsuroyya”, apa maksudnya?
Yang jelas maksudnya bukanlah suatu tanda keajaiban
seperti keajaiban datangnya gerombolan burung-burung
utusan allah yang diutus untuk menghancurkan tentaratentara gajah yang akan menghancurkan ka'bah
sebagaimana disebutkan disurat al-fiil. Melainkan
munculnya bintang tsuroyya ini hanyalah untuk pertanda
saja. Sebab orang dahulu dengan ilmu yang jauh dari teknologi, mereka menggunakan benda-benda langit sebagai patokan atau pertanda atas perubahan alam sehingga kemunculan bintang tsurayya sebagai pertanda akan masuknya musim atau puncak musim panas. Dan diketahui juga bahwa kurma itu tidaklah matang
kecuali dimusim panas (shoif) ketika cuaca panas mulai sangat terasa ditubuh. Dan nabi pun memberikan tanda matangnya kurma
itu diwaktu munculnya bintang tsuroyya dilangit yang bisa
dilihat diwaktu fajar terbit (fajar shadiq).
Jadi kata “munculnya bintang tsuroyya” janganlah dibayangkan suatu bentuk "keajaiban" yang datang ketika virus menyebar pertanda virus itu akan berhenti. Wallahu a’lam
- Mengapa nabi melarang menjual kurma ketika sedang merebaknya wabah (hama)?
Larangan nabi disini mengandung dua kemungkinan. Yang pertama, karena menjual kurma ketika sedang merebaknya hama akan memudhorotkan pembeli, dan nabi telah melarang itu dengan sabdanya:
لاضرر ولا ضرار
“Tidak boleh melakukan sesuatu yang memudhorotkan dirinya maupun orang lain” [HR. Ibnu majah dengan derajat hadits yang shohih, bahkan para fuqoha’ menjadikan sabda nabi ini sebagai kaedah fikihbakuyang disepakati]
Dan Kemungkinan yang kedua, wabah (hama) ini merebak pada
saat kurma masih belum mencapai puncak kematangan
yang sempurna, apabila wabah (hama) ini mengenai kurma
yang masih pada tahap menuju matang maka akan
mengakibatkan kurma itu tidak akan pernah matang, dan bahkan rusak. Sehingga apabila kurma ini dijual dimasa seperti ini maka sama dengan jual beli ghoror (tipuan),
sebab ketidak jelasan status kurma. Larangan Ini searah dengan hadits yang
dikeluarkan oleh Imam Muslim:
لَا تَبيعوا الثَّمَرَ حتى
يَبْدُوَ صَلاحُهُ
“Janganlah kalian menjual buah sampai nampak jelas matangnya” [HR. muslim]
Di masa belum sempurna inilah memang kurma sangat rentan terkena hama, dan karna belum ada kejelasan kematangannya sehingga nabi pun melarang menjualnya.
Masalah apakah diperbolehkan menjual buah sebelum matang ini adalah pembahasan fikih yang juga ada bahasan khilaf didalamnya. maka silahkan pembaca bisa merujuk kepada kitab-kitab fikih.
Masalah apakah diperbolehkan menjual buah sebelum matang ini adalah pembahasan fikih yang juga ada bahasan khilaf didalamnya. maka silahkan pembaca bisa merujuk kepada kitab-kitab fikih.
- Kapan kurma itu akan sempurna tingkat kematangannya?
Biasanya itu terjadi dimasa mendekati puncak musim panas yang para petani kurma dahulu menjadikan pertanda munculnya bintang tsuroyya sebagai tanda bahwa alam telah memasuki puncak musim panas.
Menurut pandangan penulis bahwa acuan pendapat sebagian ulama tentang kemunculan bintang tsuroyya dibulan mei sebabnya Dahulu dalam kalender orang-orang mesir
kuno menyebut tsuroyya ini muncul pada bulan basyans.
Bulan basyans menurut kalender orang-orang suryani
yang dijadikan acuan masyarakat irak adalah bulan ayar,
bulan ini dalam kalender masehi adalah bulan mei.
Mungkin zaman sekarang kurang sering kita temui orang yang
paham ilmu perbintangan semacam ini, namun masih bisa kita temui dalam catatan-catatan para ahli sejarah. Orang-orang dahulu itu mereka mengandalkan benda-benda langit seperti bintang, matahari dan sebagainya sebagai alat penentu waktu dan arah. Dan seperti ini masih diterapkan pada zaman nubuwwah, sehingga wajar terlihatnya bintang tsuroyya sebagai pertanda musim panas.
Bagian ketiga: hadits diatas tidak ada kaitannya dengan virus yang mengenai manusia.
Dari penjelasan diatas dapat kita pahami hadits yang dipopulerkan sebagian orang saat ini tidaklah ada kaitannya dengan virus yang mengenai manusia, apalagi kalau sampai diartikan “tanda keajaiban” disaat pandemi covid-19 seperti saat ini, kalau akan muncul ‘ujug-ujug’ bintang tsuroya sebagai tanda covid-19 akan sirna, tentu tidak dipahami demikian. Apalagi sampai dipastikan.
Walaupun sikap “tafa'ul” (optimistis) itu disyariatkan dalam ajaran islam, tapi bukan berarti dengan cara mengkaitkan-kaitkan hadits yang bukan maknanya supaya bisa menjadi maknanya.
Perbanyaklah doa dan taubat agar allah mengangkat musibah ini dari kaum muslimin, dan mengembalikan keadaan aman dan tenang seperti sedia kala. Terapkan arahan dari para ahlinya untuk selalu cuci tangan, sosial distancing dan tetap didalam rumah kecuali keluar dalam keadaan mendesak, terus bersabar dan tersenyum..