
Memetik Hikmah Tentang Makna Tawakkal dari Kisah Salaful Ummah
MUQADDIMAH
الحمد لله الذي مَنْ إذا أسْنَدَ الضعيفُ أمرهُ إليه قَوَّاهُ، ومَنْ إذا أَنْزلَ بجنابهِ الموضوعُ قَدْرهُ عَلاَّه، الذي رَفَعَ من وقفَ على خدمتهِ، وَوَصلَ من انقطع إلى طاعتهِ، وَسلْسَلَ مُدْرَجات لُطْفه، بمراسيلِ عطفهِ، فصان أحباءهُ عما فيه اضطرابٌ وعلل، وتَقَّبل بصحيح نيتهم حُسْن العمل، أحمده على آلائه، وأشكره على نعمائه.
وأشهد أن لا إله إلا الله المتواتر فضلُهُ وآلاؤُهُ، العزيز الذي ما انقطعَ إليه ذليلٌ إلاّ وصلَهُ ووالاه، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، أرسله والدين غريب فأصبح عزيزاً مشهوراً، ووضّحَ ببعثته ما كان معضلاً من الأمور ومستوراً فبيّن ما شذّ من المنكرات جملة وتفصيلاً، صلى الله عليه وعلى آله الطيبين الطاهرين، وصحابته الغرِّ الميامين، ومَنْ تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
Amma ba'du :
Kisah wabah tho'un amwas, inilah judul dari kisah ini. Pada tulisan ini Saya akan bercerita bagaimana perjalanan wabah ganas ini merenggut nyawa setengah dari penduduk Syam tatkala itu.
Alkisah
Pada tahun 18 H, hari itu Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu 'anhu bersama para sahabatnya dari kalangan pembesar suku quraisy yang dahulu pernah ikut pembebasan Kota Makkah, juga al Muhajirin dan al Anshaar berjalan dari Madinah menuju Negeri Syam. Safar beliau dalam rangka kunjungan peninjauan perkembangan keagamaan juga ekonomi Syam tatkala itu, dan ini sudah menjadi keharusan dilakukan oleh seorang khalifatul muslimin.
Mereka berhenti di daerah perbatasan sebelum memasuki Syam yang dinamakan daerah "Sargha"[1] dan didaerah inilah para umaro' Negeri Syam menyambut khalifah Umar ibn Khattab Radhiyallahu 'anhu.
Sahabat Abu Ubaidah bin Al Jarrah, seorang yang dikagumi khalifah umar, sang Gubernur Syam ketika itu juga datang ke perbatasan untuk menemui rombongan.
Dialog yang hangat antar para sahabat pun terjadi. Singkatnya, dikabarkan kepada sang khalifah bahwa saat ini keadaan Negeri Syam sedang dilanda wabah tho'un amwas, sudah tidak sedikit juga penduduk Syam yang terserang wabah ini dan keadaan kian hari pun semakin memburuk.
Awal mula wabah ini muncul dari satu desa kecil dibelahan bumi Palestina - Syam yang dinamakan Desa Amwas. Tepatnya, letak desa kecil ini sejauh 30 km dari baitul maqdis. Dahulu desa kecil ini sangatlah makmur, penduduknya pun hidup damai dan harmonis. Dari nama desa inilah yang menjadi cikal bakal nama tho'un amwas ini melegenda. Tho'un amwas ini adalah Sebuah penyakit menular, benjolan diseluruh tubuh yang akhirnya pecah dan mengakibatkan pendarahan.
Para sahabat pun saling bermusyawarah dengan sang khalifah, apakah mereka tetap akan masuk atau pulang ke Madinah.
Umar yang cerdas meminta saran kepada kaum al Muhajirin, al Anshar, dan orang-orang yang ikut Fathul Makkah. Tapi Mereka semua berbeda pendapat.
Sebagian ada yang berpendapat untuk kembali lagi ke Madinah, karena nyawa-nyawa kaum muslimin itu lebih penting dari segala-galanya. Namun sebagian sahabat yang lain memiliki pendapat berbeda bahwa mereka harus tetap menyelesaikan apa yang sudah kita 'azamkan di awal.
Terdiam sang khalifah, berfikir. Sampai akhirnya khalifah pun memutuskan untuk kembali ke Madinah.
Tapi Abu Ubaidah Radhiyallahu 'anhu menginginkan mereka tetap masuk ke Syam, bahkan sempat melontarkan perkataan kepada khalifah Umar,
يا أمير المؤمنين: أفِرارًا من قدَر الله؟
"Wahai amirul mukminin.. mengapa engkau lari dari takdirAllah Subhanahu wa ta'ala?"
Lalu khalifah Umar menyanggahnya dan bertanya,
"Jika kamu punya kambing dan ada dua lahan yang subur dan yang kering, kemana akan engkau arahkan kambingmu? Jika ke lahan kering itu adalah takdir Allah, dan jika ke lahan subur itu juga takdir Allah. Sesungguhnya dengan kami pulang, kita hanya berpindah dari takdir satu ke takdir yang lain."
Jawaban cerdas dari sang amirul mukminin yang saat ini tempat peristirahatannya disamping Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam itu. Akhirnya perbedaan itu berakhir ketika Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu 'anhu mengucapkan hadist Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
إذا سمعتم به بأرضٍ فلا تقدموا عليه، وإذا وقَع بأرضٍوأنتم بهافلا تخرجوا فِرارًا منه
"Jika kalian mendengar wabah melanda suatu negeri. Maka, jangan kalian memasukinya. Dan jika kalian berada didaerah itu janganlah kalian keluar untuk lari darinya."[2]
Mendengar sahabat Abdurrahman bin Auf memberikan jawaban dengan hadits nabi, Umar pun merasa tenang sembari mengucapkan hamdalah Umar membulatkan keputusan untuk kembali ke Madinah.
Akhirnya mereka pun pulang ke Madinah. Sedangkan Abu Ubaidah tetap ingin tinggal dinegeri Syam, bersama rakyatnya. Tanpa mereka sadari ternyata itulah pertemuan terakhir dari dua insan yang mendapat jaminan surga.
Sesampainya dimadinah, khalifah Umar merasa tidak kuasa meninggalkan sahabat yang dikaguminya, Abu Ubaidah Radhiyallahu 'anhu. Beliau pun menulis surat untuk mengajaknya ke Madinah. Isi surat itu:
من أمير المؤمنين إلى أبي عبيدة بن الجرَّاح، أنْ سلامٌ عليك، أمَّا بعد: فإنَّه قد عَرَضت لي إليك حاجةٌ، أريد أن أشافِهَك بها، فعزمتُ عليك إذا نظرتَ في كتابي هذا ألاَّ تضعَه من يدِك حتى تُقبِل إليَّ
"Dari amirul mukminin, kepada Abu Ubaidah bin Aljarrah, assalamu 'alaikum. Amma ba'du: Sungguh saat ini aku memerlukanmu, aku ingin bicara suatu keperluan. Dan aku memerintahkan kepadamu bahwa sesampainya surat ini ditanganmu jangan hanya berhenti disitu, tapi temuilah aku (dimadinah)."
Namun beliau adalah Abu Ubaidah Radhiyallahu 'anhu, diantara sahabat rasul yang cerdas. Beliau langsung memahami maksud dari pada surat sang amirul mukminin bahwa dengan surat itu beliau menghendaki dirinya keluar dari syam demi menghindar dari wabah.
Abu Ubaidah salah seorang sahabat yang sangat sederhana, amanah dan orang yang sangat menjaga muru'ah. ia lebih memilih hidup bersama rakyatnya dan mati bersama rakyatnya. Lewat surat pula beliau membalas surat sang amirul mukminin,
إنِّي قد عرفت حاجتك، وإنِّي في جندٍ من المسلمين، لا أجد فيَّ بنفسي رغبةً عنهم، فلست أُرِيد فراقهم حتى يقضيَ الله فيَّ وفيهم أمرَه وقضاءَه، فخلِّني من عزمتك يا أمير المؤمنين، ودعني في جندي
"Sungguh aku telah mengetahui apa maksud dari isi suratmu wahai amirul mukminin, tapi aku tetap ingin bersama rakyatku disini dan tak akan pernah aku meninggalkan mereka sekalipun yang aku hadapi adalah kematian. Kalaulah aku mati maka aku mati bersama rakyatku, dan itulah ketentuan yang telah ditetapkan Allah terhadapku. Aku harap anda mengerti wahai amirul mukminin. Jangan paksa aku, karena aku akan tetap bersama rakyatku."
Umar Radhiyallahu 'anhu pun menangis membaca surat balasan itu. Tak terbendung tangisnya. Sampai-sampai sahabat yang ada disekitarnya pun ikut menangis, mereka menyangka bahwa isi surat itu menyatakan Abu Ubaidah telah berpulang.
Mereka bertanya "wahai amiir, apakah Abu Ubaidah telah meninggal?" sang amir pun menjawab "belum, tapi sungguh aku telah merasakan apa yang aku khawatirkan terhadapnya (kematian)."
Betapa sungguh umar sangat memahami isi surat perpisahan dari sahabat seperjuanganya dahulu bersama sang kekasih rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dan bertambah tangisnya ketika mendengar Abu Ubaidah, Suhail bin Amr, dan sahabat-sahabat mulia lainnya radiyallahu 'anhum benar-benar wafat karena wabah Tho'un di Negeri Syam tatkala itu. Kabar duka yang sangat mendalam atas kematian mereka para sahabat nabi yang mulya telah tersebar dikota Madinah. Tangisan menyelimuti penduduk madinah pun tak terbendung.
Amirul mukminin Umar Radhiyallahu 'anhu mengatakan,
لو كان أبو عبيدة حيًّا لاستخلفتُه بَعدي
"Kalaulah Abu Ubaidah diberi umur panjang, niscaya ia akanaku jadikan penggantiku.."
Bersambung... Bagian 2
[1] Letak daerah ini setelah tabuk perbatasan Yordania
[2] (HR. Bukhari & Muslim)
[1] Letak daerah ini setelah tabuk perbatasan Yordania
[2] (HR. Bukhari & Muslim)
Bismillah.
BalasHapus