
Sepeninggal Abu Ubaidah, amirul mukminin menunjuk Mu'adz bin Jabal menjadi Gubernur Syam menggantikan Abu Ubaidah. Seorang pemuda gigih penyandang gelar sahabat nabi yang paling mengilmui hukum halal haram.
Setelah Muadz diangkat menjadi gubernur diatas mimbarnya ia berkhutbah dihadapan rakyatnya yang sedang dilanda wabah tho'un, isi khutbahnya:
يأتي زمانٌ يظهر فيه الباطل، يصبح الرجل على دين، ويمسي على آخر، ويقول الرجل: والله لا أدري ما أنا؟! لا يَعِيش على بصيرة ولا يموت على بصيرة، ويُعطَى الرجلُ من المال من مال الله، على أن يتكلَّم بكلام الزور الذي يُسخِط الله إنَّ هذا الوجع رحمة ربكم، ودعوة نبيِّكم، وموت الصالحين قبلَكم، وإنَّ معاذًا يسأل الله أن يقسم لآل معاذ منه حظَّه
"Wahai penduduk Syam, akan datang suatu zaman yang kebatilan akan sangat nampak jelas, ketika zaman itu telah terjadi seseorang yang menjumpai pagi dalam keadaan iman, sekejap sore harinya bisa dalam keadaan kafir, sembari mengatakan "Saya tidak mengetahui apa yang saya lakukan sehingga menjadikan diri ini kafir!" orang itu tidaklah hidup diatas kejelasan, dan matipun tidak. Semua terlihat gelap pada zaman itu. Sampai ada seseorang yang ia hidup dengan harta Allah tapi ia gunakan untuk mengundang murka Allah dengan menjadi saksi-saksi palsu! Wahai penduduk Syam. Sesungguhnya derita kita saat ini adalah rahmat dari tuhan kalian, doa nabi kalian, kematian yang ditakdirkan kepada orang-orang shalih sebelum kalian, dan ketahuilah sungguh seorang Mu'adz telah meminta kepada Allah untuk derita ini juga bisa dirasakan keluarga Mu'adz, sebagai bentuk kita semua adalah satu, satu tubuh, satu pengorbanan."
Khutbah yang sangat menghentak dan membekas bagi penduduk Syam tatkala itu. Khutbah yang mengingatkan pentingnya kesabaran menghadapi musibah, mengajak umat sadar derita saat itu adalah ketentuan Allah. Khutbah dari jiwa seorang pemimpin umat islam.
Total sekitar 200 ribu orang wafat karena wabah Tho'un yang jumlahnya hampir separuh penduduk Syam. Tak terkecuali Mu'adz dan keluarganya juga masuk dalam jumlah itu.
Beliau Radhiyallahu 'anhu wafat di umurnya yang ke 33, sungguh umur yang terbilang masih cukup muda. Tapi apalah daya, takdir kematian tak pernah memandang umur dan wabah tho'un sebagai sebab kematian ribuan penduduk Syam tatkala itu.
Sungguh pada saat itu, kematian adalah suatu perbincangan yang tak pernah henti. Sampai-sampai dihikayatkan seorang kakak bertanya kepada adiknya, bagaimana pagimu hari ini apakah kamu terjangkit tho'un? Begitupun sang adik bertanya kepada kakaknya dengan pertanyaan yang sama. Itu dikarenakan jika seseorang sudah terkena tho'un dipagi hari maka ia tidak akan hidup sampai sore.
Sahabat nabi yang bernama Harits bin Hisyam, tiba di Negeri Syam sebelum merebaknya wabah tho'un bersama 70 anggota keluarganya. Tidak ada yang tersisa dari mereka kecuali empat saja. Demikian juga sahabat nabi, Khalid bin Walid memiliki 40 anak yang tinggal di Syam, tidak tersisa satupun dari mereka yang hidup. Ada sekitar 36,000 tentara syam, 30,000-nya mati tersisa hanya 6,000.
Pada akhirnya, wabah tersebut berhenti ketika sahabat Amr bin Ash Radhiyallahu 'Anhu memimpin Syam menggantikan Mu'adz. Karena kecerdasan beliau lah yang menyelamatkan Syam setelah pertolongan Allah Azza wa Jalla. Hasil tadabbur beliau dan kedekatan dengan alam ini.
Beliau memahami bahwa wabah yang kian hari memakan ratusan bahkan ribuan korban ini sebabnya karena perkumpulan-perkumpulan. Beliau memang sosok sahabat yang cerdas.
Amr bin Ash berkata,
"Wahai sekalian manusia, penyakit ini menyebar layaknya kobaran api. Jaga jaraklah dan berpencarlah kalian dengan menempatkan diri di gunung-gunung atau tempat-tempat tinggi. Berpisahlah kalian."
Mereka pun berpencar dan menempati di gunung-gunung. Akhirnya, wabah pun berhenti layaknya api yang padam karena tidak bisa lagi menemukan bahan yang dibakar. Sampailah kabar itu kepada Khalifah Umar bin Khattab, beliau takjub atas kecerdasan 'Amr bin 'Ash.
Sungguh ini semua adalah kehendak Allah, ketentuan yang telah Allah tetapkan. Duka penduduk Syam berakhir ditangan Gubernur 'Amr bin 'Ash. Tidaklah suatu kesulitan yang menimpa orang-orang beriman itu akan terus-menerus, melainkan ada saat dimana Allah mengangkat kesulitan itu sebagai hikmah dan pelajaran untuk umat setelahnya. Tentu itu semua dengan cara Allah Azza wa Jalla.
--------
Semoga kisah diatas bisa diambil ibrahnya untuk diri penulis maupun pembaca, wallahu a'lam bis showab.
Jazaakumullahu khoiron, telah membaca tulisan dari seorang yang faqir ini.
____
Madinah Nabawiyyah,
Rabu, 18 Maret 2020